Kamis, 19 Juli 2012

Hikmah Ramadhan


MARHABAN YA RAMADHAN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
  
Selamat Menjalani Ibadah Puasa Ramadhan..semoga Ramadhan kali ini lebih bermakna buat kita semua..insyaAllah.
Ayiee mintak maaf sesangat, kalau dah ada singgung perasan sume...

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

Ada satu perbedaan yang menyolok antara Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan kita para umatnya yang hidup dijaman sekarang ini yakni soal menyikapi amal shaleh.
Rosulullah SAW dan para sahabat melihat amal shaleh adalah sebuah peluang dan kesempatan yang besar yang tak ternilai harganya sehingga saat-saat kehilangan peluang tersebut mereka merasa sangat sedih karena mereka masih merasa belum optimal dalam mengisi peluang amal shaleh tsb. Sehingga tidaklah heran, manusia pilihan sekaliber Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin masuk surga dan dihapuskan segala dosanya masih rajin menunaikkan sholat malam, demikian juga para sahabatnya.
Lalu bagaimana dengan kita yang belum ada apa-apanya?
Dalam menyongsong berakhirnya bulan Ramadhan Rosulullah dan para sahabatnya menumpahkan kesediahan yang amat dalam karena akan berlalunya sebuah kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Sehingga banyak diantara mereka menangis, takut, khawatir, kalau-kalau ditahun berikutnya tidak bisa lagi bertemu dengan bulan Ramadhan.
Lalu bagaimana dengan kita umatnya yang sekarang ini ?
Aneh tapi nyata, itulah yang terjadi ditengah umat Nabi Muhammad SAW sekarang ini. Kalau dulu Nabi dan para sahabatnya begitu sedih mengakhiri Ramadhan, kita umatnya yang sekarang malah merasakan kegembiraan yang amat sangat dalam meninggalkan bulan Ramadhan. Kita seakan merasa bebas dari kekangan yang membatasi dari makan, minum, bicara dan bergaul bebas. Kita seakan-akan sudah merasa cukup banyak beramal di bulan Ramadhan. Akibatnya banyak diantara kita, pasca Ramadhan kembali tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan, kembali lagi pada keadaan sebelum ramadhan. Sehingga hasil pendidikan masuk madrasah Ramadhan selama satu bulan penuh tidak membekas sama sekali. Inilah orang-orang yang rugi.
Kalau dulu Rosul dan para sahabat sangat sibuk sekali beribadah dan beri’tikaf ketika diakhir Ramadhan, kita umatnya yang sekarang diakhir-akhir Ramadhan juga ikut sibuk, tapi sibuk ngurusi persiapan lebaran, sibuk nanti lebaran pakaian model apa, sibuk ngurusin kue-kue lebaran, sibuk mempercantik rumah nanti banyak tamu yang melihat, sehingga meninggalkan ibadah yang seharusnya dijadikan prioritas utama.
Kalau dulu dalam mengakhiri Ramadhan, Rosul rajin i’tikaf di masjid, kita umatnya mengakhiri Ramadhan , pagi-pagi buta sudah sibuk dipasar ngurusin belanja.
Memang tidak dilarang, berbelanja, ngurusin pakaian lebaran, kue-kue lebaran dsb, tapi yang lebih penting dari semua itu yakni dalam mengakhiri Ramadhan kita semakin memanfaatkan kesempatan yang baik untuk beramal dan merenungi diri dihadapan Allah SWT.




Hidup itu indah jika kita bersyukur

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...